Selasa, 12 April 2016

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN ARTHUR SCHOPENHAUER

 Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Ia lahir pada 22 Februari 1788 di Danzig, Polandia. Keluarga Schopenhauer sangat kental dengan tradisi Belanda. Ayahnya, Heinrich Floris Schopenhauer (1747 – 1805) dan Johanna Schopenhauer adalah seorang pengusaha sukses yang mengontrol keluarganya dengan gaya bisnis. Nama Arthur Schopenhauer mencerminkan luasnya jaringan sang ayah dalam perdagangan internasional, sehingga ia memilihkan nama untuk anak pertamanya itu dengan kolaborasi kosa kata Jerman, Perancis, dan Inggris. Pada bulan Maret 1793, ketika Schopenhauer masih berusia 5 tahun, keluarga pindah ke Hamburg, setelah Danzig diduduki oleh Prussia.
Lahir di tengah keluarga pengusaha kaya, Schopenhauer sering melakukan kunjungan wisata ke berbagai negara di Eropa. Pada tahun 1797 – 1799 ia tinggal di Perancis, dan sebentar tinggal di Inggris di tahun 1803. Kondisi inilah yang memungkinkan Schopenhauer mempelajari bahasa Negara-negara yang dikunjunginya. Schopenhauer dalam diarynya mengatakan, tinggal di Perancis adalah pengalaman paling menyenangkan. Meskipun sejak kecil sang ayah telah mendidiknya dengan bisnis, dan selama dua tahun ia mengikuti kursus dan magang bisnis di Hamburg, namun Schopenhauer merasa bisnis bukanlah jalan hidup yang cocok baginya. Pada usia 19 tahun, ia memutuskan untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. 20 April 1805 adalah hari menyedihkan bagi Schopenhauer, karena sang ayah meninggal dunia, yang diduga kuat akibat bunuh diri.
Setelah kematian Floris, Ibu Schopenhauer, Johanna Troisiener Schopenhauer (1766 – 1838), memutuskan untuk pindah bersama anak-anaknya ke Weimar. Johanna adalah wanita cerdas dan memiliki pergaulan yang luas. Di Weimer ia bersahabat dengan Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832). Di Weimer, Johanna Schopenhauer aktif menulis essai, kisah perjalanan, dan novel.
Pada tahun 1809, Schopenhauer memulai studi di University of Gottingen di bidang Kedokteran, kemudian mengambil Filsafat. Di Gottingen, dia terpikat dengan pandangan seorang “skeptical philosopher”, Gottlob Ernst Schulze (1761 – 1833). Lewat Schulze-lah Schopenhauer mengenal pemikiran Plato dan Immanuel Kant. Setelah melewati masa studi 2 tahun di Gottingen, Schopenhauer kemudian mendaftarkan diri di Universitu of Berlin. Di sana ia diajar oleh Johann Gottlieb Fichte (1762 – 1814), dan Friedrich Schleiermacher (1768-1834). Di dua universitas ini, Schopenhauer mempelajari banyak bidang keilmuan, antara lain: fisika, psikologi, astronomi, zoology, arkeologi, fisiologi, sejarah, sastra dan syair. Pada umur 25 tahun ia berhasil menyelesaikan disertasi dengan judul “The Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason”. Pada tahun 1813, ia memutuskan pindah ke Rudolstadt, dan pada tahun yang sama ia menyampaikan disertasinya di University of Jena, kemudian dianugerahi gelar doktor filsafat.

Pangkal pemikiran Schopenhauer adalah filsafat Kant yang mengajarkan manusia hanya dapat mengetahui apa yang nampak saja (fenomena). Di sini hendak dikatakan bahwa jasa Kant yakni Kant membedakan antara apa yang nampak (fenomena) dengan benda di dalam dirinya sendiri (Ding An Sich). Bagi Schopenhauer, benda-benda di dalam dirinya sendiri  sungguh-sungguh ada dan berupa ide serta dapat dikenal melalui hati manusia.
Bagi Schopenhauer, hati memiliki tekanan dan peran yang khusus dalam mengenali dunia noumena. Dalam duni mistik, hati telah lama menjadi pintu masuk bagi pengenalan akan dunia noumena. Dengan demikian, Schopenhauer mengajukan sumbangan pemikiran filosofisnya yakni pengenalan dunia noumena melalui hati.
Menurut Schopenhauer, manusia mempunyai 2 jenis pengetahuan tentang badannya. Badan merupakan objek sekaligus entitas yang memiliki kehendak tersendiri, sesuatu yang memiliki otonominya sendiri. Badan itu kehendak yang telah menjadi objektif dalam ruang dan waktu dan berlaku untuk manusia, untuk seluruh dunia, dan sejarah.
Untuk manusia, kehendak terdapat pada daya-daya organ manusia dalam bekerja. Berbagai sistem kerja dalam tubuh seperti sistem pernafasan, pembuangan, pencernaan, dsb merupakan perwujudan nyata dari kehendak badan. Badan mempunyai otonominya sendiri terlepas dari akal atau rasio yang mengaturnya. Pemikiran ini sangat baik untuk menyadarkan manusia pada titik kesadaran akan adanya entitas yang manusia sendiri tidak pernah tahu bagaimana organ-organ itu bekerja, apa yang mendorongnya, menggerakkannya, dsb? Pad titik ini, manusia akhirnya disadarkan akan adanya entitas yang melampaui kesadaran manusia dan entitas itu memiliki daya-daya di luar kontrol rasio manusia.
Untuk dunia, kehendak terwujud secara nyata dalam perangi alam semesta. Bumi yang beredar mengelilingi matahari, susunana tata surya, gaya gravitasi, dsb merupakan perwujudan dari kehendak dunia. Manusia tidak mampu mengaturnya, namun alam semesta sendirilah yang memiliki kehendaknya untuk berbuat demikian. Dengan demikian hendak dikatakan di sini yakni seluruh perangi alam tidak cukup hanya dijelaskan oleh rasio semata, rasio manusia hanya mampu mengenali yang nampak saja (fenomena) sementara untuk hal kehendak, manusia tidak mampu mengetahui tetapi hanya dapat memahami dan merasakan.
Dalam sejarah, kehendak terwujud dalam penampakan adanya perbedaan bangsa-bangsa, zaman-zaman, dan adat istiadat. Sejarah sendiri merupakan peredaran. Oleh karenanya dalam semua zaman diumumkan hikmat yang sama oleh orang-orang alim, dan dilaksanakan kebodohan yang sama yang berlawanan dengan hikmat tersebut.
Bagi Schopenhauer, kehendak sebagai keseluruhan itu bebas, namun kehendak individu-individu tidak bebas sebab mereka hanya melayani kehendak yang lebih tinggi. Sehingga nampak sekali bahwa Schopenhauer merupakan filsuf yang pesimis. Menurutnya sebab kehendak manusia itu irrasional, maka yang tercipta hanyalah ketidakteraturan. Manusia menjadi kesepia, dunia penuh perang, optimisme tidak jujur, dsb.
Namun, Schopenhauer juga menawarkan jalan keluar yang tepat, yakni jalan melalui estetika dan etika. Estetika yang dimaksud yakni melalui seni, manusia mampu keluar dari kehendaknya dan mengalami kebahagiaan namun hanya bersifat sementara. Sementara jalan etika lebih permanen, artinya manusia mampu mencapai kebahagiaan melalui askese. Askese seperti yang diajarkan di dunia timur, hendak menekankan keinginan untuk hidup harus dimatikan, supaya manusia benar-benar lepas dari kehendaknya.
Hal positif yang dapat dipetik dari pemikiran Schopenhauer yakni kehendak pada dasarnya adalah irrasional. Keadaan irrasional berarti keadaan bebas tanpa kontrol. Jika manusia hanya dihadapkan terus-menerus pada keadaan irrasional yang terjadi justru keadaan ketidakteraturan, chaos, disorder.Keadaan chaos hanya membawa manusia pada ketidak-bahagiaan. Bagaimanapun, rasio tetap diperlukan sebagai kontrol atas kehendak. Rasio memungkinkan keseimbangan (balance) terjadi. Rasio menjadi pengatur atas kehendak yang buta (blind will). Pemikiran Schopenhauer ini membuka pintu baru bagi dunia psikologi yang secara jelas digagas oleh Freud, mengenai alam bawah sadar.



Dalam beberapa askpek,saya sepaham dengan  pandangan pesimisme  pada aliran Pemikiran Schopenhauer yang banyak dipengaruhi oleh pandangan Budha dan filsuf Immanuel Kant . Pesimisme disini bukan dalam bentuk negatif, tetapi sumber penderitaan bahwa kita tidak pernah merasa tenang, tidak pernah puas. Kita penuh kerinduan, hasrat, harapan, dan kekhawatiran. Begitu sebuah tujuan tercapai, kita merasa kosong. Tak ada tujuan yang memuaskandapat memuaskan kita. Pada dasarnya manusia hidup didunia tidak akan pernah merasa puas.


http://ykguntur.blogspot.co.id/2013/11/arthur-schopenhauer-1788-1868-komentar.html

http://astitriyatni.weblog.esaunggul.ac.id/2015/04/15/biografi-dan-pemikiran-arthur-schopenhauer/

Sabtu, 02 April 2016

Dalam pemikiran Descartes
Cogito Ergo Sum yang berarti aku berfikir maka aku ada,  beliau menggunakan metode analistis kristis melalui keraguan (skeptis) dengan penyangsian. Yaitu dengan menyangsikan atau meragukan segala apa yang bisa diragukan. Descartes sendiri menyebutnya metode analitis. Descartes juga menegaskan metode lain: empirisme rasionil. Metode itu mengintregasikan segala keuntungan dari logika, analisa geometris, dan aljabar. Yang di maksud analisa geometris adalah ilmu yang menyatukan semua disiplin ilmu yang dikumpulkan dalam nama ―ilmu pasti. Mengenai pendekatan yang digunakan Descartes dalam menganalisa pemikirannya, sudah kelihatan jelas bahwa beliau menggunakan pendekatan filsafat yang mana menganut  paham rasionalisme yang sangat mengedepankan akal.
Dapat dipahami bahwasanya Rene Descartes dalam ― Cogito Ergo Sumnya
menggunakan metode analitis tentang penyangsian dan dengan menggunakan pendekatan filsafat yang rasional.

Pokok-Pokok Pemikiran
1.Cogito ergo sum

Cogito Ergo Sum atau yang lebih dikenal dengan ―aku berfikir maka aku ada,
merupakan sebuah pemikiran yang ia hasilkan melalui sebuah meditasi keraguan yang mana  pada awalnya Descartes digelisahkan oleh ketidakpastian pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positif renaissance.
Oleh karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes memepunyai metode sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis.
Cogito dimulai dari metode penyangsian. Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki, termasuk juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya  bahwa ada suatu dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa tuhan ada).Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kasangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu  pengetahuan. Dan Descartes tidak dapat meragukan bahwa ia sedang berfikir. Maka,
Cogito ergo sum: saya yang sedang menyangsikan,ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usahaku. Apa sebab kebenaran ini bersifat sama sekali pasti? Karena saya mengerti itu dengan  jelas dan terpilah-pilah (Inggris:
clearly and distinctly). Jadi, hanya yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah harus diterima sebagai benar. Itulah norma untuk menentukan kebenaran.
Cogito Ergo sum,aku berfikir, jadi aku ada. Tahapan metode Descartes itu dapat diringkas sebagai  berikut.

 2. Ide-ide bawaan Karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapar dipercayai, maka menurut Descartes saya mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam diri saya dangan menggunakan norma tadi. Kalau metode dilangsungkan demikian,apakah hasilnya? Descartes berpendapat bahwa dalam d
iri saya terutama dapat ditemukan tiga ―ide bawaan‖ (Inggris:innate ideas). Ketiga ini yang sudah ada dalam diri saya sejak saya lahir msing-masing ialah pemikiran, Tuhan, dan keluasan.
a.Pemikiran Sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diterima juga  bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b.Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna Karena saya mempunyai
ide sempurna
, mesti ada suatu penyebab sempuna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain daripada Tuhan.
c.Keluasan Materi sebagai keluasan atau ekstensi (extension), sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.
 3.Substansi Descartes menyimpulkan bahwa selain Tuhan, ada dua subtansi:
 Pertama,
 jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran.
 Kedua, materi yang hakikatny adalah keluasan. Akan tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar aku, ia mengalami banyak kesulitan untuk memebuktikan keberadaannya. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk
menerima adanya dunia materiil ialah bahwa Tuhan akan menipu saya kalau sekiranya ia memberi saya ide keluasan,sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Dengan dmikian, keberadaan yang sempurna yang ada di luar saya tidak akan menemui saya, artinya ada dunia materiil lain yang keberadaannya tidak diragukan, bahkan sempurna.

4.Manusia Descartes memandang manusia sebagai makhluk dualitas. Manusia terdiri dari dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Sebenarnya, tubuh tidak lain dari suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa. Karena setiap substansi yang satu sama sekali terpisah dari substansi yang lain, sudah nyata bahwa Descartes menganut suatu dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, Descartes mempunyai banyak kesulitan untuk mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara tubuh dan jiwa berlangsung dalam
 grandula pinealis
( sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Akan tetapi, akhirnya pemecahn ini tidak memadai bagi Descartes sendiri.
 D.Analisa terhadap Rene Descartes 1.Pujian atau dukungan terhadap Rene Descartes Bertrand Russell dalam bukunya

http://www.academia.edu/7411507/Tokoh_Filsafat_Modern_Rene_Descartes_Cogito_Ergo_Sum