Jumat, 24 Juni 2016

HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU KHALDUN


HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU KHALDUN

Manusia sebagai perkara filosofis memang tak ada habis-habisnya dibahas oleh para pemikir dari zaman yunani sampai sekarang. Kerumitan organisasi tubuhnya beserta subtansi non material yang imanen dalam dirinya yang sulit terjamah oleh nalar menjadi penegas  bahwa mendeskripsikan manusia bukanlah perkara mudah. Maka tidaklah salah ketika Manusia diposisikan sebagai mahluk misterius.  Namun pada posisi itu pula manusia menjadi menarik untuk dibahas.
Dalam gugus pemikiran baik di Barat maupun Islam bisa kita temukan beberapa tokoh maupun aliran pemikiran yang membahas manusia dari berbagai perspektif. Di Barat usaha teoritisasi manusia bisa kita temukan pada lembar pemikiran Sokrates, Platon, Aristoteles, Neitchze, Jean Paul Satre dll. Begitupun dalam tradisi Filsafat islam bisa kita temukan pembahasan manusia dalam arus pemikiran Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Arabi dll. namun terkhusus dalam tradisi filsafat islam, sebagian besar tokoh yang menyoal Manusia memiliki lingkup pembahasan yang hampir sama. Di tangan sebagian besar pemikir islam, manusia dibahas dalam perspektif transendental dan abstrak yang penuh dengan spekulasi metafisis. Walaupun seperti itu, masih bisa kita temukan diskursus tentang manusia yang berbeda dari tradisi filsafat islam secara umum. Ibnu Khaldun adalah salah satu tokoh yang corak berfikirnya sangatlah berbeda dari pemikir islam yang lainnya apatah lagi bila membincang manusia. Jikalau sebagian besar pemikir islam mendasarkan pada spekulasi metafisis menjadi tradisi utama dalam menggapai hakikat manusia, maka khaldun melihat manusia dari kaca mata empirisme.[2]

Sebagaimana pemikir Islam yang lainnya, sangat sulit menentukan tempat Ibnu Khaldun. Itu dikarenakan keluasan penguasaannya terhadap berbagai bidang ilmu pengetahuannya dalam klasifikasi pemikir islam.[3]Dalam bidang filsafat mungkin ia dapat disebut sebagai seorang filosof.[4] Meskipun ada usaha coba-coba untuk terjun kepanggung filosofis dan seni-filsafat, Ibnu Khaldun pada hakikatnya tetap sebagai seorang ahli sejarah dengan sebuah pandangan empiris.[5] Karena begitu kompleksnya pengetahuan Ibnu Khaldun maka tidak salah pula ketika ia disebut sebagai sosiolog, antropolog dan budayawan sekaligus.

Membincang tentang bagaimana Ibnu Khaldun mengkaji manusia maka sudah jelas bahwa ia akan menelisik manusia dalam pandangan yang multidisiplin. Hal ini menjadi konsekuensi dari kompleksnya penguasaan disiplin ilmu Ibnu Khaldun. Hal inilah yang menjadikan Ibnu Khaldun sebagai pemikir islam yang unik. Dibandingkan dengan pemikir Islam yang lainnya, Ibnu Khaldun berani keluar dari tradisi pemikiran islam yang sangat dibayang-bayangi oleh fantasi metafisis. Dalam menyajikan pemikirannya, ia tak pernah lepas dari data-data empirik sebagai penguat teori yang dibangunnya.

Dari berbagai argumentasi diatas maka ada baiknya pemikiran Ibnu Khaldun terkhusus pada pengkajian persoalan manusia menarik untuk dibahas. Apa yang menjadi daya tarik dari Ibnu khaldun bahwa ia sebagai seorang jenius dari islam telah membawa warna baru dari dinamisnya pemikiran Islam.

Siapa Ibnu Khaldun?
Nama lengkapnya adalah Abrur rahmman Abu Zayd Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun. Ia dilahirkan pada 27 Mei 1332 di Tunisia. Ia berasal dari keluarga Arab-Spanyol yang terhormat, yakni dari keluarga politisi dan intelektual serta aristokrat sekaligus. semenjak kecil ia telah banyak mengenyam nuansa intelektual yang banyak seperti belajar Al-quran, hadis, fiqih dan sastra dan nahwu sharaf dengan seperangkat guru-guru yang terkenal dan ia kagumi.

Ia melawat ke Barat pada tahun 1352, terdesak oleh pertengkaran politik pada masa itu dan wabah pes pada tahun 1348-1349, yang merengguk nyawa orang tuanya dan sebagian besar guru-gurunya.[6] Disana ia menetap di Bougieu dan selanjutnya menetap di Fez, dimana disana ia tinggal di Istana Sultan Abu ‘Inan.

Dari Fez, di mana dalam suatu kesempatan ia memperoleh kedudukan administratif yang tinggi dibawah pimpinan Abu Salim, penerus Abu ‘Inan, ia pindah ke Granada yang dicapainya pada tahun 1362.[7]Kemudian ia tertarik kembali ke Fez dan Bougie, dimana ia juga menduduki jabatan yang tinggi di Istana.[8]Namun banyaknya jabatan yang ia geluti bukan berarti hidupnya tenang. Dari banyaknya panggilan untuk mengisi jabatan publik disepanjang tahun justru membuat Ibnu khaldun lebih memilih kehidupan yang sepi untuk studi dan meditasi. Selang waktu yang singkat selama penyepiannya itu pada tahun 1377 ia telah menyelesaikan karyanya yang paling penting, al-Muqaddimah, yang merupakan sebuah pengantar bagi sejarah dunianya, Kitab al-‘Ibar.[9]

Karena pengabdiannya pada penguasa-penguasa yang dirasanya penuh resiko, ia bertolak ke Iskandaria pada tahun 1382. Bertolaknya ia di sana justru mendapatkan pujian hangat oleh Sultan Mamluk, al-Malik al-Dhahir Barquq sebagai ahli Hukum pada saat ia di Kairo. Akhirnya pada tahun 1384 ia ditetapkan sebagai profesor hukum maliki dan Hakim agung Maliki Mesir. Dengan selang waktu yang tidak terlalu lama ia meraih kembali kedudukan Profesor hukum diberbagai lembaga Mamlik dan kehakiman sampai akhir hidupnya.

Pada saat Ibnu khaldun  menjadi Hakim dan ahli hukum, ia disuatu saat, bersama dengan Hakim dan ahli hukum yang lainnya dibawa oleh Sultan ke damaskus, Kota yang waktu itu menjadi serangan gempuran tentara Timur Lenk. Namun naas, Damaskus tak dapat dipertahankan dan sultan bersama dengan bala tentaranya kembali ke Mesir. Namun khaldun dan beberapa orang terkemuka tidak pulang karena mereka diberikan tugas perundingan untuk penyerahan kota itu pada Timur lenk[10]. Pada saat timur lenk telah menguasai Damaskus, kota itu pun dihancurkan namun Khaldun berhasil menyelamatkan diri serta menyelamatkan orang-orang terkemuka lainnya[11].

Di Mesir, Khaldun menghabiskan hari-harinya dengan pekerjaannya sebagai hakim dan Ahli hukum.  Dan disana pula pada tahun 1406 ia meninggal. Tak dapat dipungkiri bahwa dimasa hidupnya Khaldun sangatlah disanjungi dan dihormati sebagai cendikiawan dan sarjanawan yang cerdas dan cekatan. Bahkan karena kecerdasannya itulah ia sering mendapatkan jabatan khusus di Istana Kota dimana ia menetap. Sebuah prestasi yang luar biasa sebagai pemikir dimasanya.

Empirisme Ibnu Khaldun dan kritik atas metafisika.
Yang menarik dari usaha teoritik Ibnu khaldun bahwa dalam menjelaskan objek kajiannya selalu memanfaatkan data-data pasti dan objektif. Di sini Ibnu Khaldun memiliki sisi-sisi empiris sebagai seorang pemikir. Hal ini berbeda dengan pemikir Islam kebanyakan yang dimana usaha teoritiknya selalu dibangun oleh dasar spekulasi metafisis. Pendasaran pada empirisme dengan dukungan data-data objektif yang dilakukan oleh Khaldun pada usaha teoritiknya pun menjadikan ia melihat manusia dari sudut pandang materialis, yakni bagaimana manusia mesti dilihat dalam relasinya dengan alam dan sesamanya dan bagaimana pula alam sebagai lingkungan hidup manusia berperan dalam membentuk kualitas tubuh, watak dan aktifitasnya. Dari sikap empirik inilah yang mendorong Ibnu Khaldun menjalankan sebuah kodifikasi sistematis tentang sebuah ilmu peradaban yang hukum-hukumnya dapat diturunkan kepada hukum-hukum geografis, ekonomis, dan kebudayaan.

Apa yang menjadi konsekuensi dari sikap empiris Ibnu Khaldun yakni menjadikan ia sebagai seorang yang memiliki kecurigaan naluriah terhadap pengembaraan fantasi metafisika. Kecurigaannya itupun membuatnya sekaligus mencurigai filsafat sebagai bangunan teoritisasi realitas. maka dari sinilah Ibnu khaldun menjadi seorang pemikir yang sering kali melakukan penilaian pada filsafat.

Kriteria Ibnu khaldun dalam menilai filsafat pada dasarnya bersifat keagamaan atau teologis.[12] Pada posisi ini terlihat Khaldun memiliki perspektif yang sama dengan Al-Ghazali.[13] Menurutnya para filosof menuntut bahwa pengetahuan terhadap realitas baik yang indrawi maupun adiindrawi adalah mungkin hanya melalui perlengkapan teoritis spekulasi dan deduksi, dan kebenaran melalui butir-butir kepercayaan dapat dibangun melalui perlengkapan tersebut tanpa bantuan wahyu.[14] Hal ini sangatlah bertentangan dari apa yang menjadi keyakinan Ibnu Khaldun bahwa realitas apakah yang bersifat indrawi maupun adiindrawi mestilah memiliki penjelasan yang objektif dan empiris. Tentang persoalan realitas adiindrwai, kalau toh tak memiliki penjelasan empiris, mesti dijelaskan melalui agama. 
Penggunaan metafisika oleh para filosof juga lebih keliru, karena objek-objeknya diluar lingkup pengalaman kita dan sifatnya sama sekali tak dapat diketahui.[15] Walaupun dipaksakan untuk diketahui, kita hanya mampu menggunakan analogi dan itu sifatnya dugaan belaka, yakni tak memiliki dasar objektif.

Dari sikap empiris Ibnu Khaldun, dari sini sebenarnya ia mendahului bukan hanya empirisme Francis bacon melainkan fase-fase evolusi metode keilmuan yang terjadi beberapa abad setelahnya, yakni abad pertengahan.[16] Namun yang unik dari empirisme khaldun ialah empirisme yang tetap bergantung pada penyimpulan rasionalitas dalam mengenali fakta-fakta. Sebab ia meyakini bahwa fakta-fakta saling berhubungan satu sama lain termasuk fakta-fakta terdahulu. Hubungan ini akan menciptakan sebuah gejala yang mana gejala fakta-fakta hanya bisa ditafsir oleh rasionalitas.

 Manusia; Pertautan Raga Dan Jiwa
Ibnu khaldun meyakini bahwa manusia senantiasa berkoneksi dengan dua susunan mahluk. Ia menyebutnya sebagai mahluk bawah dan atas yang dimana entitas yang menghubungkan manusia pada dua dunia mahluk tersebut ialah jiwa.[17] Dari bawah  jiwa itu berhubungan dengan tubuh kasar, yang dari padanya ia mendapatkan kekuatan rasa panca inderanya, yang memungkinkan ia mencapai kesanggupan berfikir.[18]Dari atas jiwa itu berhubungan dengan dunia malaikat yang dari padanya ia mendapatkan kekuatan pengetahuan barang-barang yang ilmiah yang tidak bisa dicapai oleh panca indera.[19]

Berkaitan dengan dunia bawah, jiwa manusia tak akan mungkin menjalin keterhubungan ketika tak dimediasi oleh raga. Itulah sebabnya ketika jiwa menghubungkan dirinya dengan dunia bawah maka akan dimediasi oleh berbagaimacam entitas. Ibnu Khaldun menyebutnya rasa lahiriah dan batiniah.

Rasa lahiriah berkaitan dengan panca indera yakni penglihatan, pendengaran, penciuman dll. melalui panca inderalah jiwa manusia dapat melakukan kontak terhadap dunia material. Artinya segala pengetahuan tentang fakta-fakta yang ada dalam diri manusia berawal dari kerja eksplorasi panca indera.

Rasa batiniah ada beberapa tingkatan. Yang pertama adalah rasa umum (Common sense) yang berfungsi untuk menyatukan hasil tangkapan rasa lahiriah yang masih bersifat parsial dan dan membuat kita dapat bisa melihat, mendengar dan meraba secara sekaligus. artinya berkat rasa umum semua yang parsial dapat berkumpul dalam rasa ini pada waktu yang sama. Yang kedua ialah khayal yang berfungsi sebagai tempat pmenyimpan hasil olahan fakta inderawi. Menurut Ibnu Khaldun antara rasa umum dan khayal dalam aktivitasnya, dimediasi oleh alat badani yakni rongga pertama otak dimana bagian muka otak itu untuk rasa umum dan bagian belakang untuk khayal.[20] Yang ketiga kekuatan mengira-ngrakan (al-wahimah) dan kekuatan mengingat (al-hafizah). Kekuatan mengira-ngirakan berfungsi untuk menangkap pengertian yang berhubungan dengan orang sedangkan kekuatan mengingat berfungsi penyimpanan pengertian-pengertian dan bisa dimunculkan kembali dalam benak bila dibutuhkan. Dan alat badani kedua kekuatan ini ialah rongga belakang otak. Bagian muka rongga itu untuk mengira-ngira sedangkan bagian belakangnya untuk mengingat. semua kekuatan ini membawa pada kekuatan pikiran yang alat badannya adalah rongga tengah otak. Dalam perantara alat inilah proses angan-angan dan pemikiran berjalan.[21]

Semua entitas yang terjelaskan diatas adalah kualitas jiwa yang membawa manusia berhubungan dengan fakta-fakta dunia bawah dan memprosesnya menjadi sebentuk pengetahuan. Dan seperti yang terjelaskan diatas bahwa semua kualitas jiwa tersebut tak dapat beroperasi tanpa bantuan alat-alat badani dan disinilah fungsinya raga. Namun ada fase dimana jiwa dapat memahami tanpa bantuan alat-alat badani ketika jiwa telah sanggup menyentuh dunia atas. Khaldun menyebutnya dunia malaikat. [22] dan untuk mencapainya jiwa mesti melepas sifat-sifat kemanusiaan dan beralih menjadi malaikat. Hal tersebut bersifat supernatural dan hanya terwujud dalam pengalaman mistik.

Setiap manusia keterhubungan dengan dua dunia memiliki fungsinya masing-masing. Bila berhubungan dengan dunia bawah maka pada posisi itu manusia berelasi dengan alam dan beraktivitas didalamnya. Sedangkan bila berhubungan dengan dunia atas maka pada posisi tersebut manusia terhubung dengan alam gaib dan Tuhan. Kemampuan itulah yang dimiliki oleh para nabi yang dimana Ibnu Khaldun meyakini bahwa nabi sudah dapat merubah kediriannya menjadi malaikat. Itulah mengapa Nabi dapat terhubung dengan malaikat jibril dan mendapatkan wahyu.

Lebih jauh membincang tentang realitas bawah, yang mana pada momen perhubungan itulah manusia menemukan dirinya beraktivitas, bermasyarakat dan membentuk peradaban. sisi lain manusia menemukan dirinya terdeterminasi oleh lingkungan alam sebab setiap pembentukan watak dan fisik manusia terjadi dikarenakan mereka terdeterminasi oleh situasi geografis dan lingkingan sosialnya.

Manusia, Realitas Sosial Dan kebudayaan.
Apa yang telah kita bahas bahwa manusia senangtiasa berelasi dengan realitas atau dunia bawah. Dengan bekal kekuatan-kekuatan yang terhimpun dalam jiwa manusia dapat memanfaatkan alam sekitarnya agar dapat bertahan hidup. namun menurut Ibnu Khaldun manusia dalam bertahan hidup tak dapat dilakukannya sendiri. Manusia tak dapat berbuat banyak tanpa bergabung dengan beberapa tenaga lain dari sesama manusia.[23] oleh karena itu, organisasi kemasyarakatan menjadi suatu keharusan bagi manusia.[24] dengan organisasi kemasyarakatan, manusia memenuhi kebutuhannya, menciptakan alat-alat untuk menunjang kehidupannya seperti membuat rumah untuk menetap dan beristirahat, membuat alat produksi untuk menghasilkan makanan, pakaian, minuman dan kebutuhan hidup lainnya dan dengan ini organisasi kemasyarakatanpun lambat laun akan menciptakan tatanan Kota, dimana segala aktivitas dari organisasi kemasyarakatan terjadi didalamnya. Itulah yang disebut sebagai kebudayaan.

Bagi khaldun kebudayaan merupakan suatu gejala kemanusiaan yang terbentuk sebagai hasil kecenderungan alamiah manusia untuk bekerja sama.[25] Lewat penciptaan kebudayaan manusia meningkatkan kondisi kehidupannya sesuai dengan alamnya.[26] Penciptaan kebudayaan tersebut dilakukan manusia dilakukannya melalui olah pikir dan gotong royong dengan bantuan usaha dan kerja. Melalui usaha dan kerja manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kreasi dan inovasi dengan bekal keahlian tertentu. Dengan pertukangan manusia menciptakan rumah, alat produksi, perkakas rumah tangga. Dengan keahlian berkebun dan beternak manusia menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, daging dan hasil tani yang lain. Dari situ pulalah manusia mendapatkan keuntungan berupa modal untuk menunjang kelangsungan hidup.

Ibnu Khaldun mengungkapkan dinamisnya budaya dan organisasi kemasyarakatan sebagaimana kondisi yang tergambar diatas menurut pada masa dimana ia hidup. yang jelas kondisi yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun telah jauh berbeda dengan kondisi saat ini. namun ada substansi yang dapat dipetik dari pencapaian teoritik Ibnu Khaldun bahwa manusia meningkatkan kondisi kehidupannya dengan organisasi kemasyarakatan dan kerja adalah hal-khwal yang umum dan berlaku disetiap masa.

Manusia Sebagai Zoon Politicon
Menurut Aristoteles Manusia adalah Zoon politicon (hewan yang berpolitik). Ibnu Khaldun Meyakininya juga dengan memandang manusia sebagai “mahluk politik”. Hal tersebut dikarenakan manusia memiliki kecenderungan untuk berkelompok. Dengan hidup berkelompok manusia dapat mempertahankan hidupnya. Kecenderungan hidup berkelompok pada mulanya timbul oleh adanya hubungan pertalian darah. Syahdan, pertalian darah menjadi sesuatu yang utama dalam hidup berkelompok karena menurut Ibnu Khaldun pertalian darah memiliki kekuatan pengikat dan kebersamaan yang sangat kuat yang kemudian Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai solidaritas sosial. dengan adanya solidaritas sosial maka sebuah kelompok akan terlindungi oleh serangan dari kelompok-kelompok lain. Bahkan solidaritas sosial dapat dipergunakan sebagai kekuatan untuk menguasai kelompok yang lain. Dari sinilah letak kecenderungan politik manusia. sedangkan solidaritas sosial dimanfaatkan untuk meningkatkan kekuatan politik dan merebut kekuasaan.

Dalam hal kepemimpinan, baik itu kepemimpinan negara maupun suku hanya dapat dicapai melalui kekuasaan. Maka solidaritas sosial pemimpin harus lebih kuat dari pada solidaritas lain yang ada, sehingga dia memperoleh kekuasaan dan sanggup memimpin rakyatnya dengan sempurna.[27] Maka bila seorang pemimpin ingin mempertahankan kekuasaannya maka harus pula mempertahankan solidaritas sosialnya karena dengan solidaritas itu maka seorang pemimpin tetap dihormati. Sebagaimana yang dilihat Ibnu Khaldun pada kalangan suku-suku badui, solidaritas sosial terbangun karena adanya pemuka suku. Karena mereka sangat menghormati pemuka suku maka solidaritas sosial mereka terjalin untuk melindunginya beserta kelompoknya.[28] Karena Pemuka suku kalangan Badui mereka memiliki solidaritas sosial, memiliki pula kekuasaan.  Dengan kekuasaannya, para manusia yang dipimpinnya patuh dan hormat. Artinya solidaritas sosial menjadi syarat kekuasaan sebagaimana yang diungkapkan Ibnu Khaldun:

Kesatuan masyarakat dan solidaritas sosial menjadi semacam sifat alam. Sifat itu tidak akan berguna apabila unsur-unsur yang ada sama, tak berbeda. Maka diantara unsur itu ada yang berada di atas dan menguasai unsur yang lain. Hanya dengan itulah penciptaan alam ini berlangsung. Inilah rahasianya, mengapa solidaritas sosial menjadi syarat bagi kekuasaan. Dan itu pulalah kepemimpinan dapat ditentukan keberlangsungannya.[29]

Bisa ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Khaldun memahami politik sebatas pada  merebut dan mempertahankan kekuasaan. Politik dapat memiliki kekuatan jika disokong oleh solidaritas sosial dalam kelompok. Menurut Ibnu Khaldun bahwa kemenangan politik bila pihak yang bertarung memiliki solidaritas lebih kuat, dan angota-anggotanya lebih sanggup berjuang dan bersedia mati guna kepentingan bersama.[30]

Apa yang menjadi pijakan pemikirannya berasal dari pengalaman yang dilalui pada masanya dimana dinasit-dinasti yang berdiri melakukan imprealisasi demi menguasai daerah yang menjadi objeknya. Keberhasilannya tergantung dari mana raja-raja beserta prajuritnya memiliki solidaritas yang kuat dan rela mati demi kepentingan bersama. Imperialisme terjadi dimasanya menjadi penegas bahwa politik semata-mata untuk kekuasaan dan kepentingan.

Epilog
Ibnu Khaldun pada dasarnya pemikir yang unik dan langkah dimasanya. Sebab pijakan pemikirannya didasarkan pada pengalaman, himpunan data, dan penjelasan yang bersesuaian pada realitas materialnya. Sebuah penjelasan akan realitas yang belum pernah ditradisikan oleh pendahulunya. Maka Ibnu Khaldun dalam menjelaskan manusia tak muluk-muluk berputar pada rotasi metafisis. Yang ia jelaskan bagaimana manusia yang pasti dan realistis itu. dan yang ia elaborasi bagaimana manusia bertalian dengan alam dan sesamanya. Implikasinya, manusia dilihat pada dimensi sosiologis dan menyejarah.

Daftar Pustaka


Sabtu, 11 Juni 2016

Jean Paul Sartre " Kebebasan Eksistensialisme "


Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkanL’être et le néant. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebuteksistensialisme. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit, khususnya yang berbicara tentang kesadaran. Untuk mempopulerkan idenya itu, maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). Lewat buku ini Sartre menyingkatkan pemikirannya sekaligus berupaya menanggapi sejumlah kritik yang dialamatkan kepadanya, khususnya dari kaum komunis dan pihak Kristen.

eksistensialisme sebagaimana dimaksud Sartre dan dari situ kita bisa belajar sejumlah tema umum eksistensialisme seperti liberté (kebebasan), engagement (komitmen), angoisse (kecemasan),responsibilité (tanggungjawab), subjectivité (subjektivitas) dan bahwa ‘eksistensi mendahului esensi.’ Tujuan jauh dari tulisan ini adalah agar pembaca tergerak untuk langsung membaca dari sumber-sumber pertama dan bukan melulu tergantung dari keterangan yang diberikan dalam buku Sejarah Filsafat atau kritik atasnya. Selanjutnya diharapkan agar kita dapat menjadi kritis terhadap situasi dunia di sekeliling kita, kritis terhadap ideologi-ideologi yang bertebaran di sana-sini dan tidak lupa untuk menjadi kritis terhadap pemikiran Sartre dan terhadap diri sendiri. Tulisan akan dibagi menjadi 3 bagian pokok yang satu dengan lainnya saling berkaitan, walaupun mungkin secara longgar. Bagian pertama akan berbicara tentang eksistensialisme itu sendiri dengan keberagaman nuansanya. Dalam bagian kedua, penulis akan melihat apa yang dimaksud Sartre dengan humanisme. Pada bagian ketiga akan disampaikan sejumlah kritik atas pandangan Sartre. Mengingat keterbatasan ruang pengungkapan, tidak semua tema menarik yang dihantar oleh Sartre dalam bukunya tersebut akan penulis uraikan di sini.
PENJERNIHAN ISTILAH EKSISTENSIALISME OLEH SARTRE
Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya, atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti, yaitu Eksistensialisme, Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak,“Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu.” Eksistensialisme, misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme, quietisme, bahkan filsafat keputus-asaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme. Dari pihak Komunis, Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois.
Dari pihak Katolik, seperti Mlle.Mercier, dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan, yang rendah, yang patut dicela, yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona, keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Lebih jauh lagi, eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Singkatnya, eksistensialisme itu melulu voluntary. Artinya, bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai.
Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam ke-terisolir-annya. Dan ini, dalam pandangan kaum komunis, dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya padasubjektivitas murni—seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya—karenanya, eksistensialisme dengan ego-nya, tidak akan sanggup menjangkau sesamanya, apalagi berpikir tentang tentang solidaritas.
Namun, apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama, ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda, dan radikal sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak punya arti apa-apa lagi. Kedua, guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya, pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Selain itu, eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Ketiga, definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini?
Secara sederhana, Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife).Seorang pembuat pisau kertas, disebut artisan, tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat, kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi dari pisau kertas itu, yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin, mendahului eksistensinya. Dengan kata lain,produksinya mendahului eksistensinya. Di sini, kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Namun, hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan padaNya kualitas “seorang” supernatural artisan. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini, kita selalu mengandaikan bahwa tatkala Allah menciptakan, Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. Dengan begitu,  tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Dengan begitu, manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). Artinya konsepsi tentang esensi dirinya, di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia, entah ituanimal rationale (Aristoteles), atau wild man of the woods (Rousseau), man in the state of nature(Thomas Hobbes), dan the bourgeois (Karl Marx).
Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Bagi Sartre, jika Allah tidak eksis, setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya, sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Makhluk itu adalah manusia.
Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” adalah bahwa pertama-tama manusia itu eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan, hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia, sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Singkatnya, Manusia adalah.
Pandangan ini mencengangkan, namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu, di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana, dalam keluarga apa, dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa, dan macam-macam hal lainnya?
Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada, katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis—-bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa demikian?
Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam tulisannya ini yaitu tentang humanisme.

KESIPULAN
Jean Paul Sartre adalah seorang filosof yang sungguh-sungguh ekstrem dalam menempatkan kebebasan manusia sebagai bukti bahwa manusia memiliki kesadaran. Dari konsep kesadaran ini muncul kebebasan untuk memilih, bertindak, menentukan pilihan dan menentukan masa depannya sendiri. Konsep filosofis Sartre adalah “Saya ada maka juga saya berpikir”. Sartre meletakan dasar filsafat eksistensialismenya pada manusia; pada paham kebebasan manusia atau yang disebut oleh Sartre: manusia adalah kebebasan. Kesadaran yang “menidak” adalah kebebasan. Melalui kesadaran dan kebebasannya inilah kemudian membawa Sartre kepada pemahaman bahwa kebebasan manusia itu adalah absolut dan oleh karena itu dari dirinya sendiri manusia itu sifatnya dinamis (bergerak), berpindah dari satu ke yang lainnya, memiliki kapasitas untuk menetukan pilihan dan kehidupannya yang akan datang dan mempunyai pilihan tanpa ada ketergantungan terhadap yang lain, termasuk Allah. Oleh karena itu, Allah dalam konsep Sartre adalah tidak ada. Sartre dalam seluruh filsafatnya dipengaruhi dan dilatarbelakangi oleh hidupnya sendiri sebagai seorang ateis.


SUMBER :
http://calmquotes.com/jean-paul-sartre-quotes/
https://seemart.wordpress.com/2008/06/09/pemikiran-jean-paul-sartre-dalam-%E2%80%9Cexistentialism-and-humanism/
http://ferycp.blogspot.co.id/2014/06/manusia-adalah-kebebasankonsep-filsafat.html
http://ferycp.blogspot.co.id/2014/06/manusia-adalah-kebebasankonsep-filsafat.html

Jumat, 27 Mei 2016

HAKEKAT MANUSIA MENURUT AGUS COMTE



Menurut Comte, perkembangan manusia berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, tahap teologis, kedua,tahap metafisik, ketiga, tahap positif.
1.      Tahap Teologis
Pada tahap teologis ini, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia. Tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan lebih tinggi dari pada makhluk-makhluk selain insani.

Pada taraf pemikiran ini terdapat lagi tiga tahap. Pertama, tahap yang paling bersahaja atau primitif, dimana orang menganggap bahwa segala benda berjiwa (animisme). Kedua, tahap ketika orang menurunkan kelompok hal-hal tertentu, dimana seluruhnya diturunkan dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya sedemikian rupa hingga tiap tahapan gejala-gejala memiliki dewa sendiri-sendiri(polytheisme). Gejala-gejala “suci” dapat disebut “dewa-dewa”, dan “dewa-dewa” ini dapat diatur dalam suatu sistem, sehingga menjadi politeisme dengan spesialisasi. Ada dewa api, dewa lautan, dewa angin, dan seterusnya. Ketiga, adalah tahapan tertinggi, dimana pada tahap ini orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi (esa), yaitu dalam monotheisme.
Singkatnya, pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakekat yang batiniah (sebab pertama). Di sini, manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Artinya, di balik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.
2.      Tahap Metafisik
Tahap ini bisa juga disebut sebagai tahap transisi dari pemikiran Comte. Tahapan ini sebenarnya hanya merupakan varian dari cara berpikir teologis, karena di dalam tahap ini dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak, dengan pengertian atau dengan benda-benda lahiriah, yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum, yang disebut dengan alam. Terjemahan metafisis dari monoteisme itu misalnya terdapat dalam pendapat bahwa semua kekuatan kosmis dapat disimpulkan dalam konsep “alam”, sebagai asal mula semua gejala.
3.      Tahap positif
Pada tahap positif, orang tahu bahwa tiada gunanya lagi untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun metafisik. Ia tidak lagi mau mencari asal dan tujuan terakhir seluruh alam semesta ini, atau melacak hakekat yang sejati dari “segala sesuatu” yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang orang berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya, yaitu dengan “pengamatan” dan dengan “memakai akalnya”. Pada tahap ini pengertian “menerangkan” berarti fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum. Dengan demikian, tujuan tertinggi dari tahap positif ini adalah menyusun dan dan mengatur segala gejala di bawah satu fakta yang umum.
                                            
B.      Positivisme
Positivisme diturunkan dari kata positif, filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Positivisme hanya membatasi diri pada apa yang tampak, segala gejala. Dengan demikian positivisme mengesampingkan metafisika karena metafisika bukan sesuatu yang real, yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan tidak dapat dibuktikan. Positivisme suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Positivisme merupakan bentuk lain dari empirisme, yang mana keduanya mengedepankan pengalaman. Yang menjadi perbedaan antara keduanya adalah bahwa positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman yang objektif, tetapi empirisme menerima juga pengalaman-pengalaman yang bersifat batiniah atau pengalaman-pengalaman subjektif.
Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).
Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
Filsafat positivisme merupakan salah satu aliran filsafat modern yang lahir pada abad ke-19. Dasar-dasar filsafat ini dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte. Adapun yang menjadi  tititk tolak dari pemikiran positivis ini adalah, apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan positif, sehingga metafisika ditolaknya. Di sini, yang dimaksud dengan “positif” adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman obyektif. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur sedemikian rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.
Sebenarnya, tokoh-tokoh aliran ini sangat banyak. Namun begitu, Auguste Comte dapat dikatakan merupakan tokoh terpenting dari aliran filsafat Positivisme.  Menurut Comte, dan juga para penganut aliran positivisme,  ilmu pengetahuan tidak boleh melebihi fakta-fakta karena positivisme menolak metafisisme. Bagi Comte, menanyakan hakekat benda-benda atau penyebab yang sebenarnya tidaklah mempunyai arti apapun. Oleh karenanya, ilmu pengetahuan dan juga filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta. Dengan demikian, kaum positivis membatasi dunia pada hal-hal yang bisa dilihat, diukur, dianalisa dan yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Dengan model pemikiran seperti ini, kemudian Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannyaPositive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme.
Selanjutnya, karena agama (Tuhan) tidak bisa dilihat, diukur dan dianalisa serta dibuktikan, maka agama tidak mempunyai arti dan faedah. Comte berpendapat bahwa suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta. Sebaliknya, sebuah pernyataan akan dianggap salah apabila tidak sesuai dengan data empiris. Contoh misalnya pernyataan bahwa api tidak membakar. Model pemikiran ini dalam epistemologi disebut dengan teori Korespondensi.
Keberadaan (existence) sebagai masalah sentral bagi perolehan pengetahuan, mendapat bentuk khusus bagi Positivisme Comte, yakni sebagai suatu yang jelas dan pasti sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata "positif". Kata nyata (riil) dalam kaitannya dengan positif bagi suatu objek pengetahuan, menunjuk kepada hal yang dapat dijangkau atau tidak dapat dijangkau oleh akal. Adapun yang dapat dijangkau oleh akal dapat dijadikan sebagai objek ilmiah, sedangkan sebaliknya yang tidak dapat dijangkau oleh akal, maka tidak dapat dijadikan sebagai objek ilmiah. Kebenaran bagi Positivisme Comte selalu bersifat riil dan pragmatik artinya nyata dan dikaitkan dengan kemanfaatan, dan nantinya berujung kepada penataan atau penertiban. Oleh karenanya, selanjutnya Comte beranggapan bahwa pengetahuan yang demikian itu tidak bersumber dari otoritas misalnya bersumber dari kitab suci, atau penalaran metafisik (sumber tidak langsung), melainkan bersumber dari pengetahuan langsung terhadap suatu objek secara indrawi.
Dari model pemikiran tersebut, akhirnya Comte menganggap bahwa garis demarkasi antara sesuatu yang ilmiah dan tidak ilmiah (pseudo science) adalah veriviable, dimana Comte untuk mengklarifikasi suatu pernyataan itu bermakna atau tidak (meaningful dan meaningless), ia melakukan verifikasi terhadap suatu gejala dengan gejala-gejala yang lain untuk sampai kepada kebenaran yang dimaksud. Dan sebagai konsekwensinya, Comte menggunakan metode ilmiah Induktif-Verivikatif, yakni sebuah metode menarik kesimpulan dari sesuatu yang bersifat khusus ke umum, kemudian melakukan verifikasi. Selanjutnya Comte juga menggunakan pola operasional metodologis dalam bentuk observasi, eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif.
Singkatnya, filsafat Comte  merupakan filsafat yang anti-metafisis, dimana dia hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour prevoir(mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala, agar supaya dia dapat meramalkan apa yang akan terjadi.
Filsafat positivisme Comte juga disebut sebagai faham empirisme-kritis, bahwa pengamatan dengan teori berjalan seiring. Bagi Comte pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara “terisolasi”, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori.
Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subjek diluar fakta, menolak segala penggunaan metoda di luar yang digunakan untuk menelaah fakta. Atas kesuksesan teknologi industri abad XVIII, positivisme mengembangkan pemikiran tentang ilmu pengetahuan universal bagi kehidupan manusia, sehingga berkembang etika, politik, dan lain-lain sebagai disiplin ilmu, yang tentu saja positivistik. Positivisme mengakui eksistensi dan menolak esensi. Ia menolak setiap definisi yang tidak bisa digapai oleh pengetahuan manusia. Bahkan ia juga menolak nilai (value).
Apabila dikaitkan dengan ilmu sosial budaya, positivisme Auguste Comte  berpendapat bahwa (a) gejala sosial budaya merupakan bagian dari gejala alami, (b) ilmu sosial budaya juga harus dapat merumuskan hukum-hukum atau generalisasi-generalisasi yang mirip dalil hukum alam, (c) berbagai prosedur serta metode penelitian dan analisis yang ada dan telah berkembang dalam ilmu-ilmu alam dapat dan perlu diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial budaya.

C.      Pengaruh Dari Positivisme
Positivisme yang diperkenalkan Comte berpengaruh pada kehidupan intelektual abad sembilan belas. Di Inggris, sahabat Comte, Jhon Stuart Mill, dengan antusias memerkenalkan pemikiran Comte sehingga banyak tokoh di Inggris yang mengapresiasi karya besar Comte, diantaranya G.H. Lewes, penulis The Biographical History of Philosophy dan Comte’s Philosophy of Sciences; Henry Sidgwick, filosof Cambridge yang kemudian mengkritisi pandangan-pandangan Comte; John Austin, salah satu ahli paling berpengaruh pada abad sembilan belas; dan John Morley, seorang politisi sukses. Namun dari orang-orang itu hanya Mill dan Lewes yang secara intelektual terpengaruh oleh Comte.
Di Prancis, pengaruh Comte tampak dalam pengakuan sejarawan ilmu, Paul Tannery, yang meyakini bahwa pengaruh Comte terhadapnya lebih dari siapapun. Ilmuwan lain yang dipengaruhi Comte adalah Emile Meyerson, seorang filosof ilmu, yang mengkritisi dengan hormat ide-ide Comte tentang sebab, hukum-hukum saintifik, psikologi dan fisika. Dua orang ini adalah salah satu dari pembaca pemikiran Comte yang serius selama setengah abad pasca kematiannya. Karya besar Comte bagi banya filososf, ilmuwan dan sejarawan masa itu adalah bacaan wajib.
Namun Comte baru benar-benar berpengaruh melalui Emile Durkheim yang pada 1887 merupakan orang pertama yang ditunjuk untuk mengajar sosiologi, ilmu yang diwariskan Comte, di universitas Prancis. Dia merekomendasikan karya Comte untuk dibaca oleh mahasiswa sosiologi dan mendeskripsikannya sebagai ”the best possible intiation into the study of sociology”. Dari sinilah kemudian Comte dikenal sebagai bapak sosiologi dan pemikirannya berpengaruh pada perkembangan filsafat secara umum
Sebagai akibat dari pandangan tersebut, maka ilmu sosial budaya menjadi bersifat predictivedan explanatory sebagaimana halnya dengan ilmu alam dan ilmu pasti. Generalisasi-generalisasi tersebut merangkum keseluruhan fakta yang ada namun sering kali menegasikan adanya “contra-mainstream”. Manusia, masyarakat, dan kebudayaan dijelaskan secara matematis dan fisis.
Demikianlah beberapa pemikiran Auguste Comte tentang tiga tahapan perkembangan manusia dan juga bagaimana positivisme Auguste Comte memandang sumber ilmu pengetahuan.

D.     Kritik Terhadap Positivisme
Positivisme Auguste Comte mengemukakan tiga tahap perkembangan peradaban dan pemikiran manusia ke dalam tahap teologis, metafisik, dan positivistik. Pada tahap teologis pemikiran manusia dikuasai oleh dogma agama, pada tahap metafisik pemikiran manusia dikuasai oleh filsafat, sedangkan pada tahap positivistik manusia sudah dikuasai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahap ketiga itulah aspek humaniora dikerdilkan ke dalam pemahaman positivistik yang bercorak eksak, terukur, dan berguna. Ilmu-ilmu humaniora baru dapat dikatakan sejajar dengan ilmu-ilmu eksak manakala menerapkan metode positivistik. Di sini mulai terjadi metodolatri, pendewaan terhadap aspek metodologis.
Selain itu, model filsafat positivisme-nya Auguste Comte tampak begitu mengagungkan akal dan panca indera manusia sebagai tolok ukur “kebenaran”. Sebenarnya “kebenaran” sebagai masalah pokok pengetahuan manusia adalah bukan sepebuhnya milik manusia. Akan tetapi hanya merupakan kewajiban manusia untuk berusaha menghampiri dan mendekatinya dengan “cara tertentu”.
Kata cara tertentu merujuk pada pemikiran Karl Popper mengenai “kebenaran” dan sumber diperolehnya. Bagi Popper, ini merupakan tangkapan manusia terhadap objek melalui rasio (akal) dan pengalamannya, namun selalu bersifat tentatif. Artinya kebenaran selalu bersifat sementara yakni harus dihadapkan kepada suatu pengujian yang ketat dan gawat (crucial-test) dengan cara pengujian “trial and error” (proses penyisihan terhadap kesalahan atau kekeliruan) sehingga “kebenaran” se1alu dibuktikan melalui jalur konjektur dan refutasi dengan tetap konsisten berdiri di atas landasan pemikiran Rasionalisme-kritis dan Empirisme-kritis. Atau dengan meminjam dialektika-nya Hegel, sebuah “kebenaran” akan selalu mengalami proses tesis, sintesis, dan anti tesis, dan begitu seterusnya.
Pandangan mengenai “kebenaran” yang demikian itu bukan berarti mengisyaratkan bahwa Penulis tergolong penganut Relativisme, karena menurut Penulis, Relativisme sama sekali tidak mengakui “kebenaran” sebagai milik dan tangkapan manusia terhadap suatu objek. Penulis berkeyakinan bahwa manusia mampu menangkap dan menyimpan “kebenaran” sebagaimana yang diinginkannya serta menggunakannya, namun bagi manusia, “kebenaran” selalu bersifat sementara karena harus selalu terbuka untuk dihadapkan dengan pengujian (falsifikasi). Dan bukanlah verifikasiseperti apa yang diyakini oleh Auguste Comte. Hal demikian karena suatu teori, hukum ilmiah atau hipotesis tidak dapat diteguhkan (diverifikasikan) secara positif, melainkan dapat disangkal (difalsifikasikan). 

Jelasnya, untuk menentukan “kebenaran” itu bukan perlakuan verifikasi melainkan melalui proses falsifikasi dimana data-data yang telah diobservasi, dieksperimentasi, dikomparasi dan digeneralisasi-induktif berhenti sampai di situ karena telah dianggap benar dan baku (positif), melainkan harus dihadapkan dengan pengujian baru.




SUMBER :
http://psychorevolution.blogspot.co.id/2011/02/positivisme-august-comte.html
http://rennynataliaa.blogspot.co.id/2013/01/positivisme-august-comte_3.html