Rabu, 11 Mei 2016

Konsep Pemikiran Nietzche Tentang 'Kehendak Untuk Berkuasa'

A.       NIHILISME
Membuat orang gelisah adalah tugas saya
(F. Nietzsche)
             The Madman mengatakan: “ Tuhan sudah mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?
[Nietzsche, The Gay Science, seksi 125; terjermahan Walter Kaufman]
Dalam buku kumpulan Aforismenya “Der Wille Zur Match”, Nietzsche membuka tulisannya dengan gagasan tentang Nihilisme. Dia meramalkan bahaya dari segala bahaya yaitu Nihilisme. Pada dasarnya gagasan ini bukanlah suatu gagasan baru, semangat nihilistik sudah banyak ditemukan. Wacana tentang nihilisme merupakan sebuah renungan tentang krisis kebudayaan, khususnya kebudayaan Eropa. Hal ini digambarkan orang-orang Eropa yang sudah tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, yang takut merenung. Hal ini dapat dikatakan merupakan sebuah “insight” tentang apa yang hendak terjadi pada zaman sesudahnya. Disamping merupakan hasil perkembangan sejarah sebelumnya, nihilisme juga dapat dikatakan merupakan akibat timbulnya pemikiran Nietzsche yang menghantam sisa-sisa pemikiran sebelumnya. Nihilisme meliputi seluruh segi kehidupan manusia, yang dapat dibagi dalam 2:[3]
1.       Keagamaan (termasuk moral)
2.       Ilmu pengetahuan
Runtuhnya dua bidang ini akan membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami dunia dan hidupnya. Nietzsche memaklumi situasi ini dengan terus meneriakkan “Tuhan sudah mati!!!, kita telah membunuhnya”. Ungkapan tersebut digunakan Nietzsche untuk mengawali perang melawan setiap bentuk jaminan kepastian yang telah mulai pudar.
1.       Jaminan Tuhan seperti diwariskan oleh agama Kristen.
2.       Model tuhan seperti ilmu pengetahuan, prinsip logika, rasio, sejarah, dan kemajuan (progress).

1.      Cara Mengatasi Nihilisme
              Nietzsche menolak sikap diam dalam menghadapi nihilisme, sikap diam bukanlah sikap netral, sikap ini akan mengantar manusia ke dalam situasi dekaden yang tak tertahankan. Dekaden merupakan sikap yang tidak berkata “Ya” pada hidup. Alternatif yang diajukan Nietzsche adalah sikap tidak tinggal diam, yaitu mengatasi nihilisme tanpa harus menolak nihilisme. Upaya ini dilakukan dengan membalikkan nilai-nilai. Membalikkan nilai-nilai berarti mengadakan penilaian kembali terhadap nilai-nilai yang sudah ada hingga sekarang. Dalam upaya merevaluasi seluruh nilai Nietzsche memandang nilai tidak lebih dari titik berangkat dari suatu pengembaraan. Kita kadang-kadang memerlukan nilai-nilai baru, namun kadang-kadang pula kita harus melepaskan nilai yang telah kita miliki. Kebenaran menurut Nietzsche bukan merupakan kebenaran yang absolut.[4]



B.  Kehendak Untuk Berkuasa
              Kehendak untuk berkuasa dipaparkan secara gamblang dalam bukunya yang berjudul “The Will to Power”. Dalam beberapa bukunya Nietzsche menggunakan kata “kuasa” dalam beberapa konteks yang berbeda. Mula-mula Nietzsche memaksudkan kehendak untuk berkuasa sebagai prinsip untuk menerangkan perilaku, khususnya prilaku yang tidak disukainya. Dalam perkembangan selanjutnya kehendak lebih diartikan sebagai dorongan-dorongan hidup yang dimiliki oleh orang-orang Yunani kuno sehingga mereka mampu menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Baru dalam bukunya “Also Sprach Zarathustra”pembicaraan tentang zarathustra dilakukan secara filosofis
              Dalam bukunya “Beyond Good and Evil” Nietzsche menyebutkan bahwa hakikat dunia adalah kehendak untuk berkuasa, dan dalam “The Genealogy of Morals” dikatakan bahwa hakikat hidup adalah kehendak untuk berkuasa. Dan dalam “The Will to Power” hakikat terdalam dari ada adalah kehendak untuk berkuasa. Singkatnya kehendak untuk berkuasa merupakan hakikat dari dunia, hidup dan ada. Bagi Nietzsche kehendak untuk berkuasa merupakan khaos yang tak memiliki landasan apapun. Semangat Nietzsche untuk mendobrak konsep metafisik terlihat dalam makna yang terkandung pada kata kehendak (will) dan kuasa (power). Kehendak merupakan gejala yang sifatnya plural yang muncul karena terjadinya perbedaan kekuatan (power).[5]

1.      Kehendak untuk Berkuasa vs Politik
              Gagasan untuk berkuasa yang ditulis secara aforistik dalam catatan-catatan yang ditinggalkan ini telah mengundang berbagai macam penafsiran, dan salah satu penafsirannya adalah merupakan hipotesis politik. Dalam bukunya “Nietzsche der philosoph und politiker” Alfred Baumler meyakinkan bahwa disamping sebagai seorang metafisi, Nietzsche juga merupakan seorang politikus. Penafsiran ini sulit dipisahkan dari ideologi Nazi jerman pada zaman hitler. Ini merupakan upaya yang baik untuk memadukan ideologi Nazi dengan gagasan kehendak untuk berkuasa, demikianlah akhirnya gagasan kehendak untuk berkuasa dijadikan legitimasi ilmiah untuk menyerukan dan  merealisasikan slogan “ Deutschland Deutschland uber Alles”.[6]
              Pemahaman semangat kehendak untuk berkuasa secara politis ini sebenarnya sudah dirintis oleh Elizabeth, saudari Nietzsche. Negara dipandang sebagai musuh besar karena merupakan penghambat bagi kebebasan untuk merealisasikan diri. Penolakan ini dipertegas dengan pandangannya mengenai kedudukan manusia dalam dunia (die sonder stellung des menschen im cosmos). Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakan manusia dan binatang terletak pada bahwa manusia memiliki tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Manusia memiliki kemungkinan dan kemampuan untuk mengatasi dirinya. Agar setiap orang dapat mengatasi dirinya.
              Ia menolak negara, karena negara hanyalah merupakan kesatuan orang-orang yang hidup setengah-setengah. Oleh karena itu negara harus dipandang sebagai godaan yang harus diatasi supaya orang dapat mencapai dirinya sendiri, negara adalah sumber dari berbagai konformitas. Nietzsche membagi tingakatan kebudayaan menjadi 3:
1.    Barbar : kehendak manusia untuk menundukkan dan melukai orang lain
2.    Normal : kebudayaan orang-orang yang mengagumi dan membiarkan sesamanya tertawa dan bahagia.
3.    Asketik : orang lebih berpaling pada diri sendiri dan mengadakan penguasaan diri.
Orang yang berada pada kebudayaan ketiga akan merasakan dirinya sebagai orang yang paling berkuasa. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa gagasan kehendak untuk berkuasa bukanlah suatu provokasi politik. Karena kebanyakan orang mengaitkan begitu saja filsafat Nietzsche dengan gejolak politik yang terjadi di zamannya.

2.      Kehendak Untuk Berkuasan dan Pengetahuan
              Diawali dengan kritik Nietzsche terhadap Kant, karena Kant merupakan filsuf pertama yang secara sistematis mencoba melakukan kritik terhadap pengetahuan. kant berupaya untuk meninggalkan penggunaan akal secara dogmatis tanpa kritis. Nietzsche memuji kejelian Kant untuk melakukan kritik terhadap penggunaan rasio, namun disatu sisi Nietzsche melihat keterbatasan bahkan kebuntuan jalan yang diperlihatkan oleh Kant.[7] Kritik Nietzsche terhadap Kant secara singkat dapat dirumuskan:
Sekalipun Kant sudah melakukan kritik rasio, teori pengetahuan Kant masih didominasi dan dikendalikan oleh pandangan teologis, dogmatis, dan prespektif yang bersifat moral.[8]
Kritik Nietzsche pada Kant terdapat dalam 2 hal:
1.       Penilaian Nietzsche tentang pengetahuan sebagai keputusan (judgement).
2.       Penilaiannya tentang apa yang disebut Kant benda pada dirinya sendiri.
              Nietzsche menegaskan bahwa keputusan harus bersifat sintesis, dalam artian keputusan tersebut menghubungkan beberapa gagasan. Keputusan tersebut juga harus bersifat Apriori, artinya harus bersifat Universal. Kritik Nietzsche yang lebih penting berkaitan dengan kepercayaan Kant tentang adanya fakta pengetahuan. bagi Nietzsche hal tersebut merupakan dosa asal, yang merupakan keyakinannya pada adanya fakta pengetahuan. Nietzsche menunjukkan batu pertema yang menyangga pengetahuan adalah kepercayaan. Pengetahuan yang diajukan Kant menurut Nietzsche merupakan bentuk paling murni dari kepercayaan.
              Sehubungan dengan benda pada dirinya sendiri (das ding an sich) Nietzsche mengatakan bahwa dengan mata yang sudah kaburpun orang dapat melihat bahwa pembedaan dunia fenomenal dari das ding an sich tidak dapat sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Nietzsche berpendapat bahwa pengakuan Kant akan das ding an sich menjadi dunia yang kita hadapi menjadi kurang bernilai, pandangan Kant ini justru akan membuat orang akan semakin menjauh dari das ding an sich, yaitu suatu model Tuhan yang belum berhasil ditanggalkan oleh Kant. Bagi Nietzsche pengakuan akan adanya das ding an sich  sama sesatnya dengan pengakuan adanya makna-pada-dirinya atau postulat adanya tuhan yang dikemukakan oleh Spinoza, yang dilanjutkan pada kritiknya terhadap fakta pada dirinya sendiri. Karena baginya fakta terhadap diri sendiri itu tidak ada. Esensi juga tidak ada, apa yang disebut fakta atau sensi adalah hasil dari pemberian makna atau kualitas dari sudut pandang tertentu.


https://filsufgaul.wordpress.com/2008/02/04/nietzsche/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar