HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU KHALDUN
Manusia sebagai perkara filosofis memang tak ada habis-habisnya
dibahas oleh para pemikir dari zaman yunani sampai sekarang. Kerumitan
organisasi tubuhnya beserta subtansi non material yang imanen dalam dirinya
yang sulit terjamah oleh nalar menjadi penegas bahwa mendeskripsikan
manusia bukanlah perkara mudah. Maka tidaklah salah ketika Manusia diposisikan
sebagai mahluk misterius. Namun pada posisi itu pula manusia menjadi
menarik untuk dibahas.
Dalam gugus pemikiran baik di Barat maupun Islam bisa kita
temukan beberapa tokoh maupun aliran pemikiran yang membahas manusia dari
berbagai perspektif. Di Barat usaha teoritisasi manusia bisa kita temukan pada
lembar pemikiran Sokrates, Platon, Aristoteles, Neitchze, Jean Paul Satre dll.
Begitupun dalam tradisi Filsafat islam bisa kita temukan pembahasan manusia
dalam arus pemikiran Ibnu Sina, Al-Farabi, Ibnu Arabi dll. namun terkhusus
dalam tradisi filsafat islam, sebagian besar tokoh yang menyoal Manusia
memiliki lingkup pembahasan yang hampir sama. Di tangan sebagian besar pemikir
islam, manusia dibahas dalam perspektif transendental dan abstrak yang penuh
dengan spekulasi metafisis. Walaupun seperti itu, masih bisa kita temukan
diskursus tentang manusia yang berbeda dari tradisi filsafat islam secara umum.
Ibnu Khaldun adalah salah satu tokoh yang corak berfikirnya sangatlah berbeda
dari pemikir islam yang lainnya apatah lagi bila membincang manusia. Jikalau
sebagian besar pemikir islam mendasarkan pada spekulasi metafisis menjadi
tradisi utama dalam menggapai hakikat manusia, maka khaldun melihat manusia
dari kaca mata empirisme.[2]
Sebagaimana pemikir Islam yang lainnya, sangat sulit menentukan
tempat Ibnu Khaldun. Itu dikarenakan keluasan penguasaannya terhadap berbagai
bidang ilmu pengetahuannya dalam klasifikasi pemikir islam.[3]Dalam bidang filsafat mungkin ia dapat
disebut sebagai seorang filosof.[4] Meskipun ada usaha coba-coba untuk
terjun kepanggung filosofis dan seni-filsafat, Ibnu Khaldun pada hakikatnya
tetap sebagai seorang ahli sejarah dengan sebuah pandangan empiris.[5] Karena begitu kompleksnya
pengetahuan Ibnu Khaldun maka tidak salah pula ketika ia disebut sebagai
sosiolog, antropolog dan budayawan sekaligus.
Membincang tentang bagaimana Ibnu Khaldun mengkaji manusia maka
sudah jelas bahwa ia akan menelisik manusia dalam pandangan yang multidisiplin.
Hal ini menjadi konsekuensi dari kompleksnya penguasaan disiplin ilmu Ibnu
Khaldun. Hal inilah yang menjadikan Ibnu Khaldun sebagai pemikir islam yang
unik. Dibandingkan dengan pemikir Islam yang lainnya, Ibnu Khaldun berani
keluar dari tradisi pemikiran islam yang sangat dibayang-bayangi oleh fantasi
metafisis. Dalam menyajikan pemikirannya, ia tak pernah lepas dari data-data
empirik sebagai penguat teori yang dibangunnya.
Dari berbagai argumentasi diatas maka ada baiknya pemikiran Ibnu
Khaldun terkhusus pada pengkajian persoalan manusia menarik untuk dibahas. Apa
yang menjadi daya tarik dari Ibnu khaldun bahwa ia sebagai seorang jenius dari
islam telah membawa warna baru dari dinamisnya pemikiran Islam.
Siapa Ibnu Khaldun?
Nama lengkapnya adalah Abrur rahmman Abu Zayd Ibnu Muhammad Ibnu
Khaldun. Ia dilahirkan pada 27 Mei 1332 di Tunisia. Ia berasal dari keluarga
Arab-Spanyol yang terhormat, yakni dari keluarga politisi dan intelektual serta
aristokrat sekaligus. semenjak kecil ia telah banyak mengenyam nuansa
intelektual yang banyak seperti belajar Al-quran, hadis, fiqih dan sastra dan
nahwu sharaf dengan seperangkat guru-guru yang terkenal dan ia kagumi.
Ia melawat ke Barat pada tahun 1352, terdesak oleh pertengkaran
politik pada masa itu dan wabah pes pada tahun 1348-1349, yang merengguk nyawa
orang tuanya dan sebagian besar guru-gurunya.[6] Disana ia menetap di Bougieu dan
selanjutnya menetap di Fez, dimana disana ia tinggal di Istana Sultan Abu
‘Inan.
Dari Fez, di mana dalam suatu kesempatan ia memperoleh kedudukan
administratif yang tinggi dibawah pimpinan Abu Salim, penerus Abu ‘Inan, ia
pindah ke Granada yang dicapainya pada tahun 1362.[7]Kemudian ia tertarik kembali ke Fez dan
Bougie, dimana ia juga menduduki jabatan yang tinggi di Istana.[8]Namun banyaknya jabatan yang ia geluti
bukan berarti hidupnya tenang. Dari banyaknya panggilan untuk mengisi jabatan
publik disepanjang tahun justru membuat Ibnu khaldun lebih memilih kehidupan
yang sepi untuk studi dan meditasi. Selang waktu yang singkat selama
penyepiannya itu pada tahun 1377 ia telah menyelesaikan karyanya yang paling
penting, al-Muqaddimah, yang merupakan sebuah pengantar bagi
sejarah dunianya, Kitab al-‘Ibar.[9]
Karena pengabdiannya pada penguasa-penguasa yang dirasanya penuh
resiko, ia bertolak ke Iskandaria pada tahun 1382. Bertolaknya ia di sana
justru mendapatkan pujian hangat oleh Sultan Mamluk, al-Malik al-Dhahir Barquq
sebagai ahli Hukum pada saat ia di Kairo. Akhirnya pada tahun 1384 ia
ditetapkan sebagai profesor hukum maliki dan Hakim agung Maliki Mesir. Dengan
selang waktu yang tidak terlalu lama ia meraih kembali kedudukan Profesor hukum
diberbagai lembaga Mamlik dan kehakiman sampai akhir hidupnya.
Pada saat Ibnu khaldun menjadi Hakim dan ahli hukum,
ia disuatu saat, bersama dengan Hakim dan ahli hukum yang lainnya dibawa oleh
Sultan ke damaskus, Kota yang waktu itu menjadi serangan gempuran tentara Timur
Lenk. Namun naas, Damaskus tak dapat dipertahankan dan sultan bersama dengan
bala tentaranya kembali ke Mesir. Namun khaldun dan beberapa orang terkemuka
tidak pulang karena mereka diberikan tugas perundingan untuk penyerahan kota
itu pada Timur lenk[10]. Pada saat timur lenk telah menguasai
Damaskus, kota itu pun dihancurkan namun Khaldun berhasil menyelamatkan diri
serta menyelamatkan orang-orang terkemuka lainnya[11].
Di Mesir, Khaldun menghabiskan hari-harinya dengan pekerjaannya
sebagai hakim dan Ahli hukum. Dan disana pula pada tahun 1406 ia
meninggal. Tak dapat dipungkiri bahwa dimasa hidupnya Khaldun sangatlah
disanjungi dan dihormati sebagai cendikiawan dan sarjanawan yang cerdas dan
cekatan. Bahkan karena kecerdasannya itulah ia sering mendapatkan jabatan
khusus di Istana Kota dimana ia menetap. Sebuah prestasi yang luar biasa
sebagai pemikir dimasanya.
Empirisme Ibnu Khaldun dan kritik atas metafisika.
Yang menarik dari usaha teoritik Ibnu khaldun bahwa dalam
menjelaskan objek kajiannya selalu memanfaatkan data-data pasti dan objektif.
Di sini Ibnu Khaldun memiliki sisi-sisi empiris sebagai seorang pemikir. Hal
ini berbeda dengan pemikir Islam kebanyakan yang dimana usaha teoritiknya
selalu dibangun oleh dasar spekulasi metafisis. Pendasaran pada empirisme
dengan dukungan data-data objektif yang dilakukan oleh Khaldun pada usaha
teoritiknya pun menjadikan ia melihat manusia dari sudut pandang materialis,
yakni bagaimana manusia mesti dilihat dalam relasinya dengan alam dan sesamanya
dan bagaimana pula alam sebagai lingkungan hidup manusia berperan dalam
membentuk kualitas tubuh, watak dan aktifitasnya. Dari sikap empirik inilah
yang mendorong Ibnu Khaldun menjalankan sebuah kodifikasi sistematis tentang
sebuah ilmu peradaban yang hukum-hukumnya dapat diturunkan kepada hukum-hukum
geografis, ekonomis, dan kebudayaan.
Apa yang menjadi konsekuensi dari sikap empiris Ibnu Khaldun
yakni menjadikan ia sebagai seorang yang memiliki kecurigaan naluriah terhadap
pengembaraan fantasi metafisika. Kecurigaannya itupun membuatnya sekaligus
mencurigai filsafat sebagai bangunan teoritisasi realitas. maka dari sinilah
Ibnu khaldun menjadi seorang pemikir yang sering kali melakukan penilaian pada
filsafat.
Kriteria Ibnu khaldun dalam menilai filsafat pada dasarnya
bersifat keagamaan atau teologis.[12] Pada posisi ini terlihat Khaldun
memiliki perspektif yang sama dengan Al-Ghazali.[13] Menurutnya para filosof menuntut
bahwa pengetahuan terhadap realitas baik yang indrawi maupun adiindrawi adalah
mungkin hanya melalui perlengkapan teoritis spekulasi dan deduksi, dan
kebenaran melalui butir-butir kepercayaan dapat dibangun melalui perlengkapan
tersebut tanpa bantuan wahyu.[14] Hal ini sangatlah bertentangan dari
apa yang menjadi keyakinan Ibnu Khaldun bahwa realitas apakah yang bersifat
indrawi maupun adiindrawi mestilah memiliki penjelasan yang objektif dan
empiris. Tentang persoalan realitas adiindrwai, kalau toh tak memiliki
penjelasan empiris, mesti dijelaskan melalui agama.
Penggunaan metafisika oleh para filosof juga lebih keliru,
karena objek-objeknya diluar lingkup pengalaman kita dan sifatnya sama sekali
tak dapat diketahui.[15] Walaupun dipaksakan untuk
diketahui, kita hanya mampu menggunakan analogi dan itu sifatnya dugaan belaka,
yakni tak memiliki dasar objektif.
Dari sikap empiris Ibnu Khaldun, dari sini sebenarnya ia
mendahului bukan hanya empirisme Francis bacon melainkan fase-fase evolusi
metode keilmuan yang terjadi beberapa abad setelahnya, yakni abad pertengahan.[16] Namun yang unik dari empirisme
khaldun ialah empirisme yang tetap bergantung pada penyimpulan rasionalitas
dalam mengenali fakta-fakta. Sebab ia meyakini bahwa fakta-fakta saling
berhubungan satu sama lain termasuk fakta-fakta terdahulu. Hubungan ini akan menciptakan
sebuah gejala yang mana gejala fakta-fakta hanya bisa ditafsir oleh
rasionalitas.
Manusia; Pertautan Raga Dan Jiwa
Ibnu khaldun meyakini bahwa manusia senantiasa berkoneksi dengan
dua susunan mahluk. Ia menyebutnya sebagai mahluk bawah dan atas yang dimana
entitas yang menghubungkan manusia pada dua dunia mahluk tersebut ialah jiwa.[17] Dari bawah jiwa itu
berhubungan dengan tubuh kasar, yang dari padanya ia mendapatkan kekuatan rasa
panca inderanya, yang memungkinkan ia mencapai kesanggupan berfikir.[18]Dari atas jiwa itu berhubungan dengan
dunia malaikat yang dari padanya ia mendapatkan kekuatan pengetahuan
barang-barang yang ilmiah yang tidak bisa dicapai oleh panca indera.[19]
Berkaitan dengan dunia bawah, jiwa manusia tak akan mungkin
menjalin keterhubungan ketika tak dimediasi oleh raga. Itulah sebabnya ketika
jiwa menghubungkan dirinya dengan dunia bawah maka akan dimediasi oleh
berbagaimacam entitas. Ibnu Khaldun menyebutnya rasa lahiriah dan batiniah.
Rasa lahiriah berkaitan dengan panca indera yakni penglihatan,
pendengaran, penciuman dll. melalui panca inderalah jiwa manusia dapat
melakukan kontak terhadap dunia material. Artinya segala pengetahuan tentang
fakta-fakta yang ada dalam diri manusia berawal dari kerja eksplorasi panca
indera.
Rasa batiniah ada beberapa tingkatan. Yang pertama adalah rasa
umum (Common sense) yang berfungsi untuk menyatukan hasil tangkapan rasa
lahiriah yang masih bersifat parsial dan dan membuat kita dapat bisa melihat,
mendengar dan meraba secara sekaligus. artinya berkat rasa umum semua yang
parsial dapat berkumpul dalam rasa ini pada waktu yang sama. Yang kedua ialah
khayal yang berfungsi sebagai tempat pmenyimpan hasil olahan fakta inderawi.
Menurut Ibnu Khaldun antara rasa umum dan khayal dalam aktivitasnya, dimediasi
oleh alat badani yakni rongga pertama otak dimana bagian muka otak itu untuk
rasa umum dan bagian belakang untuk khayal.[20] Yang ketiga kekuatan
mengira-ngrakan (al-wahimah) dan kekuatan mengingat (al-hafizah). Kekuatan
mengira-ngirakan berfungsi untuk menangkap pengertian yang berhubungan dengan
orang sedangkan kekuatan mengingat berfungsi penyimpanan pengertian-pengertian
dan bisa dimunculkan kembali dalam benak bila dibutuhkan. Dan alat badani kedua
kekuatan ini ialah rongga belakang otak. Bagian muka rongga itu untuk
mengira-ngira sedangkan bagian belakangnya untuk mengingat. semua kekuatan ini
membawa pada kekuatan pikiran yang alat badannya adalah rongga tengah otak.
Dalam perantara alat inilah proses angan-angan dan pemikiran berjalan.[21]
Semua entitas yang terjelaskan diatas adalah kualitas jiwa yang
membawa manusia berhubungan dengan fakta-fakta dunia bawah dan memprosesnya
menjadi sebentuk pengetahuan. Dan seperti yang terjelaskan diatas bahwa semua
kualitas jiwa tersebut tak dapat beroperasi tanpa bantuan alat-alat badani dan
disinilah fungsinya raga. Namun ada fase dimana jiwa dapat memahami tanpa
bantuan alat-alat badani ketika jiwa telah sanggup menyentuh dunia atas.
Khaldun menyebutnya dunia malaikat. [22] dan untuk mencapainya jiwa mesti
melepas sifat-sifat kemanusiaan dan beralih menjadi malaikat. Hal tersebut
bersifat supernatural dan hanya terwujud dalam pengalaman mistik.
Setiap manusia keterhubungan dengan dua dunia memiliki fungsinya
masing-masing. Bila berhubungan dengan dunia bawah maka pada posisi itu manusia
berelasi dengan alam dan beraktivitas didalamnya. Sedangkan bila berhubungan
dengan dunia atas maka pada posisi tersebut manusia terhubung dengan alam gaib
dan Tuhan. Kemampuan itulah yang dimiliki oleh para nabi yang dimana Ibnu
Khaldun meyakini bahwa nabi sudah dapat merubah kediriannya menjadi malaikat.
Itulah mengapa Nabi dapat terhubung dengan malaikat jibril dan mendapatkan
wahyu.
Lebih jauh membincang tentang realitas bawah, yang mana pada
momen perhubungan itulah manusia menemukan dirinya beraktivitas, bermasyarakat
dan membentuk peradaban. sisi lain manusia menemukan dirinya terdeterminasi
oleh lingkungan alam sebab setiap pembentukan watak dan fisik manusia terjadi
dikarenakan mereka terdeterminasi oleh situasi geografis dan lingkingan
sosialnya.
Manusia, Realitas Sosial Dan kebudayaan.
Apa yang telah kita bahas bahwa manusia senangtiasa berelasi
dengan realitas atau dunia bawah. Dengan bekal kekuatan-kekuatan yang terhimpun
dalam jiwa manusia dapat memanfaatkan alam sekitarnya agar dapat bertahan
hidup. namun menurut Ibnu Khaldun manusia dalam bertahan hidup tak dapat
dilakukannya sendiri. Manusia tak dapat berbuat banyak tanpa bergabung dengan
beberapa tenaga lain dari sesama manusia.[23] oleh karena itu, organisasi
kemasyarakatan menjadi suatu keharusan bagi manusia.[24] dengan organisasi kemasyarakatan,
manusia memenuhi kebutuhannya, menciptakan alat-alat untuk menunjang
kehidupannya seperti membuat rumah untuk menetap dan beristirahat, membuat alat
produksi untuk menghasilkan makanan, pakaian, minuman dan kebutuhan hidup
lainnya dan dengan ini organisasi kemasyarakatanpun lambat laun akan
menciptakan tatanan Kota, dimana segala aktivitas dari organisasi kemasyarakatan
terjadi didalamnya. Itulah yang disebut sebagai kebudayaan.
Bagi khaldun kebudayaan merupakan suatu gejala kemanusiaan yang
terbentuk sebagai hasil kecenderungan alamiah manusia untuk bekerja sama.[25] Lewat penciptaan kebudayaan manusia
meningkatkan kondisi kehidupannya sesuai dengan alamnya.[26] Penciptaan kebudayaan tersebut
dilakukan manusia dilakukannya melalui olah pikir dan gotong royong dengan
bantuan usaha dan kerja. Melalui usaha dan kerja manusia memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan kreasi dan inovasi dengan bekal keahlian tertentu. Dengan
pertukangan manusia menciptakan rumah, alat produksi, perkakas rumah tangga.
Dengan keahlian berkebun dan beternak manusia menghasilkan buah-buahan,
sayur-sayuran, daging dan hasil tani yang lain. Dari situ pulalah manusia
mendapatkan keuntungan berupa modal untuk menunjang kelangsungan hidup.
Ibnu Khaldun mengungkapkan dinamisnya budaya dan organisasi
kemasyarakatan sebagaimana kondisi yang tergambar diatas menurut pada masa
dimana ia hidup. yang jelas kondisi yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun telah
jauh berbeda dengan kondisi saat ini. namun ada substansi yang dapat dipetik
dari pencapaian teoritik Ibnu Khaldun bahwa manusia meningkatkan kondisi
kehidupannya dengan organisasi kemasyarakatan dan kerja adalah hal-khwal yang
umum dan berlaku disetiap masa.
Manusia Sebagai Zoon Politicon
Menurut Aristoteles Manusia adalah Zoon politicon (hewan
yang berpolitik). Ibnu Khaldun Meyakininya juga dengan memandang manusia
sebagai “mahluk politik”. Hal tersebut dikarenakan manusia memiliki
kecenderungan untuk berkelompok. Dengan hidup berkelompok manusia dapat
mempertahankan hidupnya. Kecenderungan hidup berkelompok pada mulanya timbul
oleh adanya hubungan pertalian darah. Syahdan, pertalian darah menjadi sesuatu
yang utama dalam hidup berkelompok karena menurut Ibnu Khaldun pertalian darah
memiliki kekuatan pengikat dan kebersamaan yang sangat kuat yang kemudian Ibnu
Khaldun menyebutnya sebagai solidaritas sosial. dengan adanya solidaritas
sosial maka sebuah kelompok akan terlindungi oleh serangan dari
kelompok-kelompok lain. Bahkan solidaritas sosial dapat dipergunakan sebagai
kekuatan untuk menguasai kelompok yang lain. Dari sinilah letak kecenderungan
politik manusia. sedangkan solidaritas sosial dimanfaatkan untuk meningkatkan
kekuatan politik dan merebut kekuasaan.
Dalam hal kepemimpinan, baik itu kepemimpinan negara maupun suku
hanya dapat dicapai melalui kekuasaan. Maka solidaritas sosial pemimpin harus
lebih kuat dari pada solidaritas lain yang ada, sehingga dia memperoleh
kekuasaan dan sanggup memimpin rakyatnya dengan sempurna.[27] Maka bila seorang pemimpin ingin
mempertahankan kekuasaannya maka harus pula mempertahankan solidaritas
sosialnya karena dengan solidaritas itu maka seorang pemimpin tetap dihormati.
Sebagaimana yang dilihat Ibnu Khaldun pada kalangan suku-suku badui,
solidaritas sosial terbangun karena adanya pemuka suku. Karena mereka sangat
menghormati pemuka suku maka solidaritas sosial mereka terjalin untuk
melindunginya beserta kelompoknya.[28] Karena Pemuka suku kalangan Badui
mereka memiliki solidaritas sosial, memiliki pula kekuasaan. Dengan
kekuasaannya, para manusia yang dipimpinnya patuh dan hormat. Artinya
solidaritas sosial menjadi syarat kekuasaan sebagaimana yang diungkapkan Ibnu
Khaldun:
Kesatuan masyarakat dan solidaritas sosial menjadi semacam sifat
alam. Sifat itu tidak akan berguna apabila unsur-unsur yang ada sama, tak
berbeda. Maka diantara unsur itu ada yang berada di atas dan menguasai unsur
yang lain. Hanya dengan itulah penciptaan alam ini berlangsung. Inilah
rahasianya, mengapa solidaritas sosial menjadi syarat bagi kekuasaan. Dan itu
pulalah kepemimpinan dapat ditentukan keberlangsungannya.[29]
Bisa ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Khaldun memahami politik
sebatas pada merebut dan mempertahankan kekuasaan. Politik dapat
memiliki kekuatan jika disokong oleh solidaritas sosial dalam kelompok. Menurut
Ibnu Khaldun bahwa kemenangan politik bila pihak yang bertarung memiliki
solidaritas lebih kuat, dan angota-anggotanya lebih sanggup berjuang dan
bersedia mati guna kepentingan bersama.[30]
Apa yang menjadi pijakan pemikirannya berasal dari pengalaman
yang dilalui pada masanya dimana dinasit-dinasti yang berdiri melakukan
imprealisasi demi menguasai daerah yang menjadi objeknya. Keberhasilannya
tergantung dari mana raja-raja beserta prajuritnya memiliki solidaritas yang
kuat dan rela mati demi kepentingan bersama. Imperialisme terjadi dimasanya
menjadi penegas bahwa politik semata-mata untuk kekuasaan dan kepentingan.
Epilog
Ibnu Khaldun pada dasarnya pemikir yang unik dan langkah
dimasanya. Sebab pijakan pemikirannya didasarkan pada pengalaman, himpunan
data, dan penjelasan yang bersesuaian pada realitas materialnya. Sebuah
penjelasan akan realitas yang belum pernah ditradisikan oleh pendahulunya. Maka
Ibnu Khaldun dalam menjelaskan manusia tak muluk-muluk berputar pada rotasi
metafisis. Yang ia jelaskan bagaimana manusia yang pasti dan realistis itu. dan
yang ia elaborasi bagaimana manusia bertalian dengan alam dan sesamanya.
Implikasinya, manusia dilihat pada dimensi sosiologis dan menyejarah.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar