Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir
di Paris tanggal 21 Juni 1905. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian
yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkanL’être et
le néant. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Dengan buku ini
segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai salah seorang
pemimpin gerakan filosofis yang disebuteksistensialisme. Meskipun buku ini
mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang
yang memahami pemikirannya yang memang rumit, khususnya yang berbicara tentang
kesadaran. Untuk mempopulerkan idenya itu, maka tiga tahun kemudian Sartre
mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946).
Lewat buku ini Sartre menyingkatkan pemikirannya sekaligus berupaya menanggapi
sejumlah kritik yang dialamatkan kepadanya,
khususnya dari kaum komunis dan pihak Kristen.
eksistensialisme sebagaimana dimaksud Sartre dan
dari situ kita bisa belajar sejumlah tema umum eksistensialisme seperti liberté (kebebasan), engagement (komitmen), angoisse (kecemasan),responsibilité (tanggungjawab), subjectivité (subjektivitas)
dan bahwa ‘eksistensi mendahului esensi.’ Tujuan jauh dari tulisan ini adalah
agar pembaca tergerak untuk langsung membaca dari sumber-sumber pertama dan
bukan melulu tergantung dari keterangan yang diberikan dalam buku Sejarah
Filsafat atau kritik atasnya. Selanjutnya diharapkan agar kita dapat menjadi
kritis terhadap situasi dunia di sekeliling kita, kritis terhadap
ideologi-ideologi yang bertebaran di sana-sini dan tidak lupa untuk menjadi
kritis terhadap pemikiran Sartre dan terhadap diri sendiri. Tulisan akan dibagi
menjadi 3 bagian pokok yang satu dengan lainnya saling berkaitan, walaupun
mungkin secara longgar. Bagian pertama akan berbicara tentang eksistensialisme
itu sendiri dengan keberagaman nuansanya. Dalam bagian kedua, penulis akan
melihat apa yang dimaksud Sartre dengan humanisme. Pada bagian ketiga akan
disampaikan sejumlah kritik atas pandangan Sartre. Mengingat keterbatasan ruang
pengungkapan, tidak semua tema menarik yang dihantar oleh Sartre dalam bukunya
tersebut akan penulis uraikan di sini.
PENJERNIHAN ISTILAH EKSISTENSIALISME OLEH SARTRE
Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan
kepadanya, atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti, yaitu Eksistensialisme,
Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak,“Eksistensialisme itu
tidak seperti ini dan tidak seperti itu.” Eksistensialisme, misalnya dituduh
sebagai nama lain dari pesimisme, quietisme,
bahkan filsafat keputus-asaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang
positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya.
Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan
itu diidentikkan dengan eksistentialisme.
Dari pihak Komunis, Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat
kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat
kaum bourgeois.
Dari pihak Katolik, seperti Mlle.Mercier,
dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal
yang memalukan, yang rendah, yang patut dicela, yang menjijikkan dalam situasi
konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona, keindahan dan hal-hal
yang baik dari kodrat manusia. Lebih jauh lagi, eksistensialisme dianggap
menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia
mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen
disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Singkatnya, eksistensialisme itu
melulu voluntary. Artinya, bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut
apa yang ia sukai.
Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu
sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah
manusia dalam ke-terisolir-annya. Dan ini, dalam pandangan kaum komunis,
dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya padasubjektivitas murni—seperti
yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya—karenanya,
eksistensialisme dengan ego-nya, tidak akan sanggup menjangkau sesamanya,
apalagi berpikir tentang tentang solidaritas.
Namun, apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang
dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela
dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama, ia sendiri juga menyayangkan
bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai
apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda, dan radikal sehingga istilah
“eksistensialisme” nyaris tidak punya arti apa-apa lagi.
Kedua, guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya,
pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran
yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Selain itu,
eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap
kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan
suatu subjektivitas manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi
dengan peristilahan a human universality of condition.
Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Ketiga,
definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya
sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan
karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Apa maksud Sartre dengan
proposisi ini?
Secara sederhana, Sartre mengambil contoh dari
kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir
mendahului esensi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau
pisau kertas (paper knife).Seorang
pembuat pisau kertas, disebut artisan, tentu mempunyai konsepsi terlebih
dahulu di benaknya apa yang mau ia buat, kegunaannya dan bagaimana prosedur
pembuatannya. Esensi dari pisau kertas itu, yaitu keseluruhan dari rumusan
pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya
dan definisinya menjadi mungkin, mendahului eksistensinya. Dengan kata lain,produksinya
mendahului eksistensinya. Di sini, kita memandang dunia dari sudut pandang
teknis. Namun, hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang
Pencipta yang berarti mengatribusikan padaNya kualitas “seorang” supernatural
artisan. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini, kita selalu
mengandaikan bahwa tatkala Allah menciptakan, Ia tahu persis apa yang sedang Ia
ciptakan. Dengan begitu, tiap individu manusia adalah realisasi dari
konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Dengan begitu, manusia
memiliki kodrat tertentu (human nature). Artinya konsepsi tentang esensi
dirinya, di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu
konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia, entah ituanimal rationale (Aristoteles),
atau wild man of the woods (Rousseau), man in the state of
nature(Thomas Hobbes), dan the bourgeois (Karl Marx).
Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului
eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Bagi
Sartre, jika Allah tidak eksis, setidaknya ada satu makhluk yang
eksistensinya ada sebelum esensinya, sebuah makhluk yang eksis sebelum ia
dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Makhluk itu
adalah manusia.
Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud
dengan “eksistensi mendahului esensi” adalah bahwa pertama-tama manusia itu
eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas)
di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia
sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan, hal itu
adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia
tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia
tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia,
sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia).
Singkatnya, Manusia adalah.
Pandangan ini mencengangkan, namun inilah prinsip
pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang
menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Apakah pandangan ini tidak terlalu
subyektif? Lalu, di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu?
Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri
misalnya: kita lahir di mana, dalam keluarga apa, dibesarkan dalam lingkungan
berbahasa apa, dan macam-macam hal lainnya?
Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya.
Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya.
Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi
adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada,
katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa
manusia pertama-tama eksis—-bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang
mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia
lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka
manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah
dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan
menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban
eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak
lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri.
Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Kita tentu
bertanya, bagaimana bisa demikian?
Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi
atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek
individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui
subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah
yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang
kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia
yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan.
Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan
yang terbentang luas di hadapannya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang
bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan yang kita
pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita
tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggungjawab kita lantas terletak
pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut
kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap
memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam
tulisannya ini yaitu tentang humanisme.
KESIPULAN
Jean Paul Sartre adalah seorang filosof yang sungguh-sungguh ekstrem dalam menempatkan kebebasan manusia sebagai bukti bahwa manusia memiliki kesadaran. Dari konsep kesadaran ini muncul kebebasan untuk memilih, bertindak, menentukan pilihan dan menentukan masa depannya sendiri. Konsep filosofis Sartre adalah “Saya ada maka juga saya berpikir”. Sartre meletakan dasar filsafat eksistensialismenya pada manusia; pada paham kebebasan manusia atau yang disebut oleh Sartre: manusia adalah kebebasan. Kesadaran yang “menidak” adalah kebebasan. Melalui kesadaran dan kebebasannya inilah kemudian membawa Sartre kepada pemahaman bahwa kebebasan manusia itu adalah absolut dan oleh karena itu dari dirinya sendiri manusia itu sifatnya dinamis (bergerak), berpindah dari satu ke yang lainnya, memiliki kapasitas untuk menetukan pilihan dan kehidupannya yang akan datang dan mempunyai pilihan tanpa ada ketergantungan terhadap yang lain, termasuk Allah. Oleh karena itu, Allah dalam konsep Sartre adalah tidak ada. Sartre dalam seluruh filsafatnya dipengaruhi dan dilatarbelakangi oleh hidupnya sendiri sebagai seorang ateis.
SUMBER :
http://calmquotes.com/jean-paul-sartre-quotes/
https://seemart.wordpress.com/2008/06/09/pemikiran-jean-paul-sartre-dalam-%E2%80%9Cexistentialism-and-humanism/
http://ferycp.blogspot.co.id/2014/06/manusia-adalah-kebebasankonsep-filsafat.html
http://ferycp.blogspot.co.id/2014/06/manusia-adalah-kebebasankonsep-filsafat.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar